Lirik lagu Peulara Lidah – Rafli

Salah satu syair lagu Rafli yang berjudul Peulara lidah. Lagu ini di nyanyikan rafli dengan begitu semangat. Arti dari lirik lagu tersebut juga sarat dengan nasehat.

Lirik lagu Peulara Lidah – Rafli

(*)Tajak beutron ta eu ta eu beudeuh

Beek rugo meuh hate saket

Beek that kayem tangah u ateuh

Sosah keu neuleuh gaki meu palet

Ta meututo bek leupah –leupah

Peulara lidah yoh goh meu singklet

Seubab Narit teubit lam babah

Menyoe ka leupah han ek le ta let

Menyoe jalo jeut tapeu siblah

Teulanjo lidah jeut keu peunyaket

Lileeh minyeuk bak leupah dah

Oeh leupah peugah sosah sosah takawe

Teutop ngoen duroe asoe jeut taplah

Itop ngon babah leupah that saket

Beek sak jaroe dalm peunerah

Jaroe teu patah meudarah meudarah kulet

Wahee syedara bek leupah leupah peugah

Nyang le beurekah kayem that sulet

Beek ceot beuleun ngoen ujoeng galah

Hana faidah meu ube meu ube pijet

Kembali (*)

 

Rumeh adalah Kunci Tapeumulia Jamee

Rumeh” ( Senyum dengan ikhlas ), sebuah kata yang hampir hilang sejalan dengan bergulirnya waktu. Mengapa tidak, dunia zaman sekarang ini makin lama makin modern saja. Sampai-sampai peninggalan nenek moyang sudah tak dihiraukan lagi. Jika kita lihat dari beberapa sudut pandang, kata-kata Rumeh memiliki beberapa pengertian lain.  Rumeh juga bisa disebut dengan istilah 5S dalam kehidupan sehari- hari, yang berarti Salam, Senyum, Sapa, Sopan, dan Santun.

Jika kita melihat sekilas, kata-kata “Rumeh” itu bukanlah apa-apa jika dikaitkan dengan Program Visit Banda Aceh 2011. Anda mungkin akan bertanya, kalau ini tidak penting mengapa saya (penulis) harus membuat artikel ini? Baiklah, mungkin bagi masyarakat yang baru saja tiba di Kuta Radja menganggap itu tidak penting. Namun bagi masyarakat “asoe lhoek”  ( tulen ) Aceh akan setuju jika kata-kata Rumeh ini dijadikan sebagai salah satu kata kunci pada Program Visit Banda Aceh 2011 ini. Sama halnya dengan kata-kata “Peumulia Jamee Adat Geutanyoe” ( Memuliakan Tamu adalah Adat Kita), yang merupakan tradisi sejak nenek moyang kita menduduki Tanoh Rincong yang kita cintai ini.

“Peumulia Jamee Adat Geutanyoe”, adalah sebuah kalimat yang sedang booming di Aceh, khususnya di Banda Aceh. Kalimat tersebut digunakan sebagai keyword atau kata kunci pada Program Visit Banda Aceh 2011. Sangat menyedihkan jika rakyat Aceh tidak memiliki sikap “Peumulia Jamee Adat Geutanyoe” di dalam diri mereka. Sebuah sikap yang memiliki jutaan manfaat bagi kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari selaku makhluk sosial.

Jika kita mengkolaborasikan kata-kata Rumeh dan Peumulia Jamee Adat Geutanyoe, besar kemungkinan ini akan menjadi sebuah gebrakan baru yang bernilai positif yang kemudian akan menciptakan  sebuah kebiasaan baik bagi rakyat Aceh dalam bermasyrakat. Baik itu dengan sesama orang Aceh atau bisa saja dengan orang di luar Aceh, bahkan warga asing sekalipun. Sebagai contoh, warga asing sangat menghormati waktu. Bagi mereka “time is money” ( waktu itu adalah uang, sementara orang Arab menyebutnya “alwaktu kasshaif” yang berarti waktu itu seperti pedang. Lantas apa hubungannya dengan kedua kata diatas dengan topik yang sedang kita bicarakan?  Nah, sebetulnya mudah saja untuk dijawab. Hanya saja diperlukan penjelasan yang lebih detil agar kita semua dapat memahaminya.

Masih berkaitan dengan pertanyaan yang saya layangkan di atas tadi,  dan sekarang saya sendiri juga yang akan mencoba menjawabnya. Nanggroe Aceh Darussalam dikenal juga dengan sebutan Bumi Serambi Mekkah. Sebuah negeri yang dipandang memiliki populasi Islam terbanyak di Asia. Tentu saja kita sebagai orang Aceh merasa bangga dengan gelar yang telah dinobatkan kepada Nanggroe kita. Syariat Islam yang mendukung pemerintahan Aceh sangat berpengaruh pada perkembangan Islam di Aceh. Meskipun kita akui masih terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan Syariat Islam di Aceh, namun sekarang inilah tahap perbaikan atas semua hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan Agama Islam. Nah, di tahun 2011 ini Pemerintah Aceh telah membuat suatu Program yang diberi namaVisit Banda Aceh 2011. Sebuah Program yang bertujuan untuk memperkenalkan Aceh ke mata dunia , baik dalam hal wisata, sejarah, dan banyak hal lain yang kita sendiri bisa melihatnya di bumi Nanggroe Aceh Darussalam ini.

Pada Program ini, Pemerintah dengan bangga mencantumkan kata kunci yang bertuliskan Peumulia Jamee Adat Geutanyoe. Apa maksud dari kalimat tersebut jika kita mengkaji secara adat yang ada di Aceh? Maksud memuliakan disini mempunyai banyak arti, mulai dari sikap Rumeh,disiplin, dapat dipercaya, dll. Itulah mengapa saya mengaitkannya dengan contoh diatas tadi. Disiplin disini berarti tegas untuk menegakkan kebenaran dan membasmi kebathilan. Salah satunya masalah waktu, seperti waktu shalat contohnya. Tanpa disadari sebetulnya apa yang kita lakoni dalam kehidupan kita sehari-hari selalu ada sangkut pautnya dengan agama kita. Subhanallah.

Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk membantu suksesnya Program Visit Banda Aceh 2011? Banyak sekali cara untuk membantu suksesnya Program tersebut. Berikut beberapa cara yang saya pikir akan bermanfaat:

1.      Promosi

Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk membantu  Program Visit Banda Aceh 2011 yaitu dengan membantu promosi atau mengkampanyekannya. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mempromosikan Program ini. Apalagi zaman sekarang dunia sudah sangat canggih. Banyak social networking yang bisa kita gunakan, seperti Facebook, Twitter,  dan masih banyak lagi cara yang bisa kita lakukan.

2.      Ikut Serta

Ikut serta dan ikut meramaikan Program ini. Sebagai contoh sekarang ini panitia Program Visit Banda Aceh 2011 mengadakan perlombaan menulis atau blog yang berhubungan dengan Program tersebut. Dengan mendaftarkan hasil karya kita saja, berarti  kita telah ikut serta dan membantu berpromosi, karena salah satu persyaratan yang dituliskan panitia adalah peserta diwajibkan memasang banner Visit Banda Aceh 2011 di masing-masing blog yang kita miliki.  Dan masih banyak cara yang dapat kita lakukan.

Nah, sekarang coba kita perluas lagi makna  Rumeh yang tadi sempat tertunda. Secara kaedah, kata-kata Rumeh sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya itu, banyak sekali manfaat yang akan kita peroleh seandainya saja sikap Rumeh telah tertanam dalam pribadi kita. Namun sayang, itu hampir pudar dari peradaban masyarakat Aceh. Entah karena takut dikatakan ketinggalan zaman atau apa sebenarnya alasan dari sebagian kita masyarakat Aceh merasa malu untuk mengucapkan kata-kata dari nenek moyang kita tersebut.  Dunia boleh saja berkembang, dan pastinya kita juga mau berkembang. Tapi bukan berarti berkembang dan kemudian lupa akan tanda jati diri kita. Jati diri yang sejak dulu mendorong kita sehingga dapat berkembang seperti sekarang ini. Jangan pernah ada sifat “ seperti kacang lupa pada kulitnya” pada diri kita. Karena sifat yang demikianlah yang membuat semua yang kita miliki musnah dengan percuma. Tetapi walaupun demikian, yang pasti itu milik kita, dan sekarang kita sendiri yang berusaha untuk memusnahkannya. Mari berbenah wahai saudaraku. Seyogyanya kita sebagai penduduk bumi Serambi Mekkah sadar akan hal ini, dan segera berusaha untuk menanamkan kembali di dalam diri saudara-saudara lainnya.

Nah, ternyata kata-kata Rumeh juga mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam Program ini bukan? Bagaimana kita bisa mewujudkan sikap Peumulia Jamee Adat Geutanyoe jika tidak didasari sikap Rumeh? Jawabannya ada di diri kita masing-masing. Mari berbenah diri dan bersama kita tumbuhkan kembali sikap Rumeh dalam diri kita sekarang. Ridha Yusardi.

Sosial Media untuk Visit Banda Aceh 2011

Gaung Visit Banda Aceh 2011 sudah dimulai akhir tahun 2010 dikampanyekan melalui berbagai media. Indikator kesuksesnyan sulit diukur, namun sekarang banyak pihak yang mulai mempertanyakan keberhasilan dan dampak luas bagi masyarakat khususnya kota Banda Aceh. Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) pernah mengatakan bahwa tingkat hunia hotel di Banda Aceh menurun drastis walau program Visit Banda Aceh 2011 sedang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh.

Keluhan PHRI tersebut bisa menjadi suatu acuan ketidak berhasilan dari kampanye Visit Banda Aceh 2011. Banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satu adalah promosi. Kita coba melihat apa yang sudah dilakukan oleh Dinas Pariwisata dalam mempromosikan program visit Banda Aceh 2011, membuat acara disalah satu stasion TV swasta nasional, iklan di inflight megazine airline, poster dan baliho. Dua hal pertama diatas adalah langkah bijak namun untuk poster dan baliho ini yang kurang tepat karena dipajang hanya di kota Banda Aceh, apakah Visit Banda Aceh 2011 menargetkan warga kota Banda Aceh? ini yang aneh.

Lalu siapa target sebenarnya wisatawan yang diinginkan kita juga tidak tau banyak. Banda Aceh tidak banyak memiliki spot wisata yang menarik untuk dikunjungi, namun musibah tsunami pada tahun 2004 silam telah menjadikan kota Banda Aceh sebagai tempat wisata yang unik dan tidak dimiliki daerah lain. Lagi-lagi banyak wisatawan terutama yang domestik kecewa karena museum tsunami yang dibangga-banggakan itu tak kunjung dibuka sampai sekarang (27/04/2011).

Melihat kedua hal diatas promisi dan spot wisata maka saya mengambil beberapa kesimpulam dan tawaran ide.

Masalah Promosi

Social Media atau media sosil seperti twitter, facebook, blog dan lainya merupakan media yang terlupakan dalam mempromosikan program visit Banda Aceh 2011. Pengalaman saya dalam tour yang diadakan oleh Tourism Selangor, Malaysia beberapa waktu lalu dengan memanfaatkan blogger untuk mempromosikan spot-spot wisata di Selangor mendapatkan umpan balik yang lebih dari yang diharapkan. Mengundang 30 blogger aktif dari 3 negara untuk menulis pengalaman mereka melalui blog setiap hari selama kunjungan bisa menempatkan spot-spot wisata tersebut dihalaman pertama hasil pencarian Google.com. Namun sedikit hal yang lupa mereka lakukan yaitu dalam menentukan kata kunci yang harus dituliskan.

Dinas Pariwisata kota Banda Aceh bisa mengundang blogger dan membiayai mereka selama kunjungan bekerjasama denga pelaku wisata seperti perusahaan penerbangan, hotel, restauran dan lainya. Ini akan sangat membantu menciptakan konten posistif di internet tentang spot-spot wisata di Banda Aceh. Sebagai contoh kata kunci yang digunakan adalan wisata tsunami, wisata islami dan sebagainya bisa menjadi hal yang banyak dicari orang dalam merencanakan liburannya. Dinas Pariwisata juga bila perlu bisa membayar konsultan untuk mencari kata kunci pencarian di internet yang tepat.

Membuat fans page di Facebook dan promosi melalui twitter juga tidak dilakukan, hanyak beberapa orang yang tergabung dalam komunitas @iloveaceh yang rajin berbagi informasi melalu twitter. Di era teknologi internet ini memiliki sosial media konsultan dalam promosi sudah menjadi hal yang lumrah. Saya juga punya pengalaman bagaimana salah satu Airline di Malaysia yang menyewa sosial media konsultan untuk melakukan promo produk mereka. Konten di internet akan bertahan lama dan bisa diakses oleh banyak orang, hal ini juga yang membuat promosi melalui blog lebih bagus dibandingkan dengan baliho atau poster. Banyangkan uang yang harus dikeluarkan untuk memasakang 1 baliho di Jakarta memerlukan dana ratusan juta rupiah dan hanya bertahan seberapa kita sanggup membayarnya sedangkan promisi diblog sampai program Visit Banda Aceh 2011 selesai kontennya tetap akan ada dan membawa dampak yang lama terhadap pariwisata Banda Aceh.

Target Wisatawan.

Melihat insfrastruktur dan kondisi keamanan yang baru selesai konflik serta bencana alam yang sering terjadi maka bila menargetkan wisatawan mancanegara adalah hal yang muluku-muluk. Orang berwisata ingin mendapatkan kesenangan bukan aturan-aturan yang menakutkan. Wisatawan mancanegara memiliki pilihan banyak tempat wisata dengan uang yang mereka miliki dan perkiraan biaya yang akan dikeluarkan untuk membandingkan Banda Aceh dan tempat lain. Sedangkan wisatawan domestik tidak banyak pilihan karena keterbatasan dana dan Banda Aceh memiliki daya tarik tersendiri yaitu wisata tsunami.

Sebagai contoh, wisatawan dari Eropa bila ingin berkunjung ke negara-negara Asean akan lebih memilih Bali, Pattaya, Langkawi, Cebu atau tempat-tempat lain di bandingkan Banda Aceh dengan biaya yang hampir sama tapi memiliki fasilitas dan kenyamanan yang tidak bisa didaptkan di Banda Aceh. Sedangkan wisatawan domestik dengan biaya murah mereka bisa mengunjungi Banda Aceh karena cara berwisata yang berbeda. Maka dari itu menurut saya untuk tahap awal program visit Banda Aceh 2011 cukup menargetkan wisatawan domestik saja. Dengan menentukan terget maka promosi yang dilakukan bisa terarah.

Sumber Dari http://fadli.web.id/1554/sosial-media-untuk-visit-banda-aceh-2011.aspx