Smartphone Vs Real Life

Smartphone baru, siapa yang ga pengen. Samsung S4, iPhone 5, Blackberry, de el el.. Wow.. Wow banget.. Hari ini dan ntah sampai kapan, gadget jadi indikator ke”tajiran” pemiliknya. Ada banyak fitur yang di sediakan oleh smartphone, katakanlah seperti bisa pesbukan, twitteran, whatssapp, bbm, yg terbaru, wechat. Kesemuanya untuk menghubungkan orang ke orang dengan smartphone. Klu mas bro nokia ngomong “connecting people”.

Fitur2 keren smartphone itu, bisa menghubungkan ke banyak orang cuma dengan gadget. Bisa pesbukan seharian, mention sana sini dengan twitter, berchat ria di BBM. Pokoke smartphone menawarkan dunia baru bagi usernya.

image source : http://blog.ntelos.com/wp-content/uploads/2012/06/manly-apps.jpg

Sebelum tsunami terjadi di Aceh, kami sering ngopi di warkop Ayah, di simpang darma, sesekali ke solong di ulee kareng. Waktu itu, solong ga se rame sekarang. Klu siang, kita bisa tidur2an di atas meja solong. Nah, dulu ngopi itu terasa asik, kita smua terfokus pada pembicaraan di warkop.1 orang memberikan argumen, maka yang lain akan memberikan argumen juga, ntah stuju ato menolak. Intinya, ada proses komunikasi yang terjadi.

Nah, sekarang utk urusan ngopi udah beda cerita. Ngopi tetap ngopi, cuma suasananya yang lain. Setiap orang punya smartphone. Waktu ngopi, si smartphone menjadi penguasa. Kita lebih asik berkomunikasi via smartphone dari pada dengan teman yang semeja.Jd, ngopi sekarang udah “tabeu” alias ga asik. Ada yang berasik ria dengan BBM (ini yg paling dominan), ada yg di sibukkan dengan balas komen di pesbuk, ada juga yang sibuk dengan mention2 di twitter. Manusia berada di bawah kendali smartphone.

Yang paling di sayangkan lagi seandainya hal ini masuk ke dalam ranah keluarga. Waktu kecil dulu, siap makan malam bersama, kami selalu punya tradisi ngumpul di teras rumah. Almarhum Ayah selalu punya cerita baru, dan selalu mengasikkan. Kami juga punya cerita masing2. i miss when i child😦

Ok, back to story.

Seandainya pengaruh smartphone ntu masuk ke ranah keluarga ?? Omaygod.. what happen aya naon ? Sang ayah sibuk dengan tivi, sang ibu sibuk dengan BBM, sang anak lale dengan pesbukiyah.. Ga ada lagi komunikasi yg bisa di bangun. Yang ada cuma komunikasi hampa, komunikasi yang hambar.

Smartphone ga salah, cuma user-a aja yang ga ngerti waktu untuk menggunakannya. Intinya, ada waktu untuk smartphone dan ada waktu untuk keluarga.

Turn Off Your Smartphone, Turn On Your Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s