Budaya Malu

“Sesungguhnya sebagian yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah, ‘Bila kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu’.” (HR Bukhari)

Rasa malu memang merupakan rem yang sangat ampuh dalam mengontrol perilaku kita. Sekiranya tidak ada rasa malu pada diri kita, tentu apa yang diisyaratkan hadis di atas akan benar-benar terjadi. Kita akan melakukan apa saja yang diinginkan tanpa kekangan. Kalau sudah seperti itu, maka berbagai penyelewengan dan penyimpangan tentu akan dilakukan tanpa adanya perasaan bersalah.

Budaya Malu
image from : http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2012/04/budaya-malu.jpg

Bahkan mungkin, berbagai penyimpangan itu dikemas dalam tampilan yang saleh dan agamis. Tanpa adanya rasa malu, apa yang tidak layak menjadi pantas, dan apa yang terlarang menjadi boleh dan dipandang baik.

Penting untuk dipahami bahwa rasa malu seharusnya diarahkan pada hal-hal yang salah dan buruk, bukan dalam hal-hal yang benar dan baik. Tidak semestinya seseorang malu untuk menuntut apa yang memang menjadi haknya. Tapi, ia seharusnya malu jika mengambil apa-apa yang bukan haknya, walaupun tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui perbuatannya.

Nabi Luth AS mengingatkan kaumnya (yang menyimpang secara seksual) ketika mereka datang dan bernafsu pada tamu-tamu Luth yang berparas tampan. Beliau berkata, ‘‘Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu.” (QS Al-Hijr [15]: 68). Namun, apa hendak dikata, rasa malu sudah hilang dari diri mereka. Dan, mereka pun hendak melampiaskan nafsu sesuka mereka. Sampai akhirnya Allah menurunkan azab atas diri mereka. Alangkah indah sekiranya kaum Muslimin memiliki rasa malu yang kuat, sehingga rasa malu itu menjadi penuntun ke arah perilaku yang mulia. Setiap kali hal-hal yang buruk menggoda di hadapan, maka mereka berkata dengan hati yang bergetar, ”Sungguh saya malu pada Allah untuk berbuat yang semacam ini.”

Semua itu akan menjadi lebih kokoh lagi ketika rasa malu sudah menjadi karakter yang bersifat kolektif. Budaya malu. Dengan begitu semua pihak saling diingatkan untuk merasa malu setiap kali terdorong melakukan hal yang buruk. Sebagai konsekuensinya, rasa malu akan menjadi ”penyakit” yang menulari masyarakat luas. Maka, insya Allah masyarakat pun akan menjadi sehat setelah terjangkit ”penyakit” yang positif ini.

Apakah masih ada rasa malu di hati kita? Barangkali perhatian kita terhadap pertanyaan tersebut pada hari ini akan menjadi penyelamat bangsa di masa-masa yang akan datang. Semoga!

2 thoughts on “Budaya Malu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s