Rumeh adalah Kunci Tapeumulia Jamee

Rumeh” ( Senyum dengan ikhlas ), sebuah kata yang hampir hilang sejalan dengan bergulirnya waktu. Mengapa tidak, dunia zaman sekarang ini makin lama makin modern saja. Sampai-sampai peninggalan nenek moyang sudah tak dihiraukan lagi. Jika kita lihat dari beberapa sudut pandang, kata-kata Rumeh memiliki beberapa pengertian lain.  Rumeh juga bisa disebut dengan istilah 5S dalam kehidupan sehari- hari, yang berarti Salam, Senyum, Sapa, Sopan, dan Santun.

Jika kita melihat sekilas, kata-kata “Rumeh” itu bukanlah apa-apa jika dikaitkan dengan Program Visit Banda Aceh 2011. Anda mungkin akan bertanya, kalau ini tidak penting mengapa saya (penulis) harus membuat artikel ini? Baiklah, mungkin bagi masyarakat yang baru saja tiba di Kuta Radja menganggap itu tidak penting. Namun bagi masyarakat “asoe lhoek”  ( tulen ) Aceh akan setuju jika kata-kata Rumeh ini dijadikan sebagai salah satu kata kunci pada Program Visit Banda Aceh 2011 ini. Sama halnya dengan kata-kata “Peumulia Jamee Adat Geutanyoe” ( Memuliakan Tamu adalah Adat Kita), yang merupakan tradisi sejak nenek moyang kita menduduki Tanoh Rincong yang kita cintai ini.

“Peumulia Jamee Adat Geutanyoe”, adalah sebuah kalimat yang sedang booming di Aceh, khususnya di Banda Aceh. Kalimat tersebut digunakan sebagai keyword atau kata kunci pada Program Visit Banda Aceh 2011. Sangat menyedihkan jika rakyat Aceh tidak memiliki sikap “Peumulia Jamee Adat Geutanyoe” di dalam diri mereka. Sebuah sikap yang memiliki jutaan manfaat bagi kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari selaku makhluk sosial.

Jika kita mengkolaborasikan kata-kata Rumeh dan Peumulia Jamee Adat Geutanyoe, besar kemungkinan ini akan menjadi sebuah gebrakan baru yang bernilai positif yang kemudian akan menciptakan  sebuah kebiasaan baik bagi rakyat Aceh dalam bermasyrakat. Baik itu dengan sesama orang Aceh atau bisa saja dengan orang di luar Aceh, bahkan warga asing sekalipun. Sebagai contoh, warga asing sangat menghormati waktu. Bagi mereka “time is money” ( waktu itu adalah uang, sementara orang Arab menyebutnya “alwaktu kasshaif” yang berarti waktu itu seperti pedang. Lantas apa hubungannya dengan kedua kata diatas dengan topik yang sedang kita bicarakan?  Nah, sebetulnya mudah saja untuk dijawab. Hanya saja diperlukan penjelasan yang lebih detil agar kita semua dapat memahaminya.

Masih berkaitan dengan pertanyaan yang saya layangkan di atas tadi,  dan sekarang saya sendiri juga yang akan mencoba menjawabnya. Nanggroe Aceh Darussalam dikenal juga dengan sebutan Bumi Serambi Mekkah. Sebuah negeri yang dipandang memiliki populasi Islam terbanyak di Asia. Tentu saja kita sebagai orang Aceh merasa bangga dengan gelar yang telah dinobatkan kepada Nanggroe kita. Syariat Islam yang mendukung pemerintahan Aceh sangat berpengaruh pada perkembangan Islam di Aceh. Meskipun kita akui masih terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan Syariat Islam di Aceh, namun sekarang inilah tahap perbaikan atas semua hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan Agama Islam. Nah, di tahun 2011 ini Pemerintah Aceh telah membuat suatu Program yang diberi namaVisit Banda Aceh 2011. Sebuah Program yang bertujuan untuk memperkenalkan Aceh ke mata dunia , baik dalam hal wisata, sejarah, dan banyak hal lain yang kita sendiri bisa melihatnya di bumi Nanggroe Aceh Darussalam ini.

Pada Program ini, Pemerintah dengan bangga mencantumkan kata kunci yang bertuliskan Peumulia Jamee Adat Geutanyoe. Apa maksud dari kalimat tersebut jika kita mengkaji secara adat yang ada di Aceh? Maksud memuliakan disini mempunyai banyak arti, mulai dari sikap Rumeh,disiplin, dapat dipercaya, dll. Itulah mengapa saya mengaitkannya dengan contoh diatas tadi. Disiplin disini berarti tegas untuk menegakkan kebenaran dan membasmi kebathilan. Salah satunya masalah waktu, seperti waktu shalat contohnya. Tanpa disadari sebetulnya apa yang kita lakoni dalam kehidupan kita sehari-hari selalu ada sangkut pautnya dengan agama kita. Subhanallah.

Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk membantu suksesnya Program Visit Banda Aceh 2011? Banyak sekali cara untuk membantu suksesnya Program tersebut. Berikut beberapa cara yang saya pikir akan bermanfaat:

1.      Promosi

Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk membantu  Program Visit Banda Aceh 2011 yaitu dengan membantu promosi atau mengkampanyekannya. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mempromosikan Program ini. Apalagi zaman sekarang dunia sudah sangat canggih. Banyak social networking yang bisa kita gunakan, seperti Facebook, Twitter,  dan masih banyak lagi cara yang bisa kita lakukan.

2.      Ikut Serta

Ikut serta dan ikut meramaikan Program ini. Sebagai contoh sekarang ini panitia Program Visit Banda Aceh 2011 mengadakan perlombaan menulis atau blog yang berhubungan dengan Program tersebut. Dengan mendaftarkan hasil karya kita saja, berarti  kita telah ikut serta dan membantu berpromosi, karena salah satu persyaratan yang dituliskan panitia adalah peserta diwajibkan memasang banner Visit Banda Aceh 2011 di masing-masing blog yang kita miliki.  Dan masih banyak cara yang dapat kita lakukan.

Nah, sekarang coba kita perluas lagi makna  Rumeh yang tadi sempat tertunda. Secara kaedah, kata-kata Rumeh sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya itu, banyak sekali manfaat yang akan kita peroleh seandainya saja sikap Rumeh telah tertanam dalam pribadi kita. Namun sayang, itu hampir pudar dari peradaban masyarakat Aceh. Entah karena takut dikatakan ketinggalan zaman atau apa sebenarnya alasan dari sebagian kita masyarakat Aceh merasa malu untuk mengucapkan kata-kata dari nenek moyang kita tersebut.  Dunia boleh saja berkembang, dan pastinya kita juga mau berkembang. Tapi bukan berarti berkembang dan kemudian lupa akan tanda jati diri kita. Jati diri yang sejak dulu mendorong kita sehingga dapat berkembang seperti sekarang ini. Jangan pernah ada sifat “ seperti kacang lupa pada kulitnya” pada diri kita. Karena sifat yang demikianlah yang membuat semua yang kita miliki musnah dengan percuma. Tetapi walaupun demikian, yang pasti itu milik kita, dan sekarang kita sendiri yang berusaha untuk memusnahkannya. Mari berbenah wahai saudaraku. Seyogyanya kita sebagai penduduk bumi Serambi Mekkah sadar akan hal ini, dan segera berusaha untuk menanamkan kembali di dalam diri saudara-saudara lainnya.

Nah, ternyata kata-kata Rumeh juga mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam Program ini bukan? Bagaimana kita bisa mewujudkan sikap Peumulia Jamee Adat Geutanyoe jika tidak didasari sikap Rumeh? Jawabannya ada di diri kita masing-masing. Mari berbenah diri dan bersama kita tumbuhkan kembali sikap Rumeh dalam diri kita sekarang. Ridha Yusardi.

One thought on “Rumeh adalah Kunci Tapeumulia Jamee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s