Sosial Media untuk Visit Banda Aceh 2011

Gaung Visit Banda Aceh 2011 sudah dimulai akhir tahun 2010 dikampanyekan melalui berbagai media. Indikator kesuksesnyan sulit diukur, namun sekarang banyak pihak yang mulai mempertanyakan keberhasilan dan dampak luas bagi masyarakat khususnya kota Banda Aceh. Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) pernah mengatakan bahwa tingkat hunia hotel di Banda Aceh menurun drastis walau program Visit Banda Aceh 2011 sedang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh.

Keluhan PHRI tersebut bisa menjadi suatu acuan ketidak berhasilan dari kampanye Visit Banda Aceh 2011. Banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satu adalah promosi. Kita coba melihat apa yang sudah dilakukan oleh Dinas Pariwisata dalam mempromosikan program visit Banda Aceh 2011, membuat acara disalah satu stasion TV swasta nasional, iklan di inflight megazine airline, poster dan baliho. Dua hal pertama diatas adalah langkah bijak namun untuk poster dan baliho ini yang kurang tepat karena dipajang hanya di kota Banda Aceh, apakah Visit Banda Aceh 2011 menargetkan warga kota Banda Aceh? ini yang aneh.

Lalu siapa target sebenarnya wisatawan yang diinginkan kita juga tidak tau banyak. Banda Aceh tidak banyak memiliki spot wisata yang menarik untuk dikunjungi, namun musibah tsunami pada tahun 2004 silam telah menjadikan kota Banda Aceh sebagai tempat wisata yang unik dan tidak dimiliki daerah lain. Lagi-lagi banyak wisatawan terutama yang domestik kecewa karena museum tsunami yang dibangga-banggakan itu tak kunjung dibuka sampai sekarang (27/04/2011).

Melihat kedua hal diatas promisi dan spot wisata maka saya mengambil beberapa kesimpulam dan tawaran ide.

Masalah Promosi

Social Media atau media sosil seperti twitter, facebook, blog dan lainya merupakan media yang terlupakan dalam mempromosikan program visit Banda Aceh 2011. Pengalaman saya dalam tour yang diadakan oleh Tourism Selangor, Malaysia beberapa waktu lalu dengan memanfaatkan blogger untuk mempromosikan spot-spot wisata di Selangor mendapatkan umpan balik yang lebih dari yang diharapkan. Mengundang 30 blogger aktif dari 3 negara untuk menulis pengalaman mereka melalui blog setiap hari selama kunjungan bisa menempatkan spot-spot wisata tersebut dihalaman pertama hasil pencarian Google.com. Namun sedikit hal yang lupa mereka lakukan yaitu dalam menentukan kata kunci yang harus dituliskan.

Dinas Pariwisata kota Banda Aceh bisa mengundang blogger dan membiayai mereka selama kunjungan bekerjasama denga pelaku wisata seperti perusahaan penerbangan, hotel, restauran dan lainya. Ini akan sangat membantu menciptakan konten posistif di internet tentang spot-spot wisata di Banda Aceh. Sebagai contoh kata kunci yang digunakan adalan wisata tsunami, wisata islami dan sebagainya bisa menjadi hal yang banyak dicari orang dalam merencanakan liburannya. Dinas Pariwisata juga bila perlu bisa membayar konsultan untuk mencari kata kunci pencarian di internet yang tepat.

Membuat fans page di Facebook dan promosi melalui twitter juga tidak dilakukan, hanyak beberapa orang yang tergabung dalam komunitas @iloveaceh yang rajin berbagi informasi melalu twitter. Di era teknologi internet ini memiliki sosial media konsultan dalam promosi sudah menjadi hal yang lumrah. Saya juga punya pengalaman bagaimana salah satu Airline di Malaysia yang menyewa sosial media konsultan untuk melakukan promo produk mereka. Konten di internet akan bertahan lama dan bisa diakses oleh banyak orang, hal ini juga yang membuat promosi melalui blog lebih bagus dibandingkan dengan baliho atau poster. Banyangkan uang yang harus dikeluarkan untuk memasakang 1 baliho di Jakarta memerlukan dana ratusan juta rupiah dan hanya bertahan seberapa kita sanggup membayarnya sedangkan promisi diblog sampai program Visit Banda Aceh 2011 selesai kontennya tetap akan ada dan membawa dampak yang lama terhadap pariwisata Banda Aceh.

Target Wisatawan.

Melihat insfrastruktur dan kondisi keamanan yang baru selesai konflik serta bencana alam yang sering terjadi maka bila menargetkan wisatawan mancanegara adalah hal yang muluku-muluk. Orang berwisata ingin mendapatkan kesenangan bukan aturan-aturan yang menakutkan. Wisatawan mancanegara memiliki pilihan banyak tempat wisata dengan uang yang mereka miliki dan perkiraan biaya yang akan dikeluarkan untuk membandingkan Banda Aceh dan tempat lain. Sedangkan wisatawan domestik tidak banyak pilihan karena keterbatasan dana dan Banda Aceh memiliki daya tarik tersendiri yaitu wisata tsunami.

Sebagai contoh, wisatawan dari Eropa bila ingin berkunjung ke negara-negara Asean akan lebih memilih Bali, Pattaya, Langkawi, Cebu atau tempat-tempat lain di bandingkan Banda Aceh dengan biaya yang hampir sama tapi memiliki fasilitas dan kenyamanan yang tidak bisa didaptkan di Banda Aceh. Sedangkan wisatawan domestik dengan biaya murah mereka bisa mengunjungi Banda Aceh karena cara berwisata yang berbeda. Maka dari itu menurut saya untuk tahap awal program visit Banda Aceh 2011 cukup menargetkan wisatawan domestik saja. Dengan menentukan terget maka promosi yang dilakukan bisa terarah.

Sumber Dari http://fadli.web.id/1554/sosial-media-untuk-visit-banda-aceh-2011.aspx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s