Maria Reni Widowati Merupakan Korban KDRT ?

Apakah Maria Reni Widowati merupakan korban dari KDRT ? Setidaknya itulah yang menjadi isu sementara semenjak ia di temukan tewas di tangan suaminya sendiri, Josef Revo (Ketua Komite Keuangan atau Bendahara PSSI). Kepergian Maria Reni Widowati, membawa duka mendalam bagi keluarganya. Maria yang dikenal supel dan baik hati itu, hidupnya berakhir dengan tragis.

Banyak pihak yang berargumentasi jika KDRT menjadi faktor utama penyebab kematian maria Reni Widowati. Hasil visum menunjukkan Maria tewas dianiaya suaminya hingga tewas di di Kompleks Deplu, Jalan Deplu 2 nomor 1, RT 5 RW 3, Bintaro, Jakarta Selatan, Sabtu (20/2) dini hari. Maria mengalami luka parah di bagian kepala. Joseph yang depresi akibat insiden itu, dijerat dengan pasal KDRT.

Dalam proses pemakaman Maria, tampak hadir Sekjen PSSI Noegraha Besoes. Menurut Noegraha, PSSI belum melakukan tindakan apapun terhadap Josef terkait kasus penganiayaan ini. Pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian terhadap tersangka.

Apa itu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ?

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) telah menjadi agenda bersama dalam beberapa dekade terakhir. Fakta menunjukan bahwa KDRT memberikan efek negatif yang cukup besar bagi wanita sebagai korban. World Health Organization (WHO) dalam World Report pertamanya mengenai “Kekerasan dan Kesehatan” di tahun 2002, menemukan bahwa antara 40 hingga 70 persen perempuan yang meninggal karena pembunuhan, umumnya dilakukan oleh mantan atau pasangannya sendiri. Laporan Khusus dari PBB mengenai Kekerasan Terhadap Perempuan telah mendefinisikan KDRT dalam bingkai jender sebagai ”kekerasan yang dilakukan di dalam lingkup rumah tangga dengan target utama terhadap perempuan dikarenakan peranannya dalam lingkup tersebut; atau kekerasan yang dimaksudkan untuk memberikan akibat langsung dan negatif pada perempuan dalam lingkup rumah tangga.”

Kekerasan dalam rumah tangga seringkali menggunakan paksaan yang kasar untuk menciptakan hubungan kekuasaan di dalam keluarga, di mana perempuan diajarkan dan dikondisikan untuk menerima status yang rendah terhadap dirinya sendiri. KDRT seakan-akan menunjukkan bahwa perempuan lebih baik hidup di bawah belas kasih pria. Hal ini juga membuat pria, dengan harga diri yang rendah, menghancurkan perasaan perempuan dan martabatnya karena mereka merasa tidak mampu untuk mengatasi seorang perempuan yang dapat berpikir dan bertindak sebagai manusia yang bebas dengan pemikiran dirinya sendiri. Sebagaimana pemerkosaan, pemukulan terhadap istri menjadi hal umum dan menjadi suatu keadaan yang serba sulit bagi perempuan di setiap bangsa, kasta, kelas, agama maupun wilayah.

The European Convention for the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms (“ECHR”), the American Convention on Human Rights (“ACHR”), bersama dengan the Inter-American Convention on the Prevention, Punishment and Eradication of Violence Against Women (“Inter-American Convention on Violence Against Women”), dan the African Charter on Human and Peoples’ Rights (“African Charter”) merupakan dokumen utama HAM regional yang dapat dijadikan landasan bagi korban KDRT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s