Calon-calon Pengganti Sri Mulyani

Beberapa nama sudah mulai digadang-gadang untuk menggantikan posisi Menteri Keuangan RI yang ditinggalkan oleh Sri Mulyani Indrawati. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun, menurut Juru Bicara Kepresidenan Julian Adrian Pasha, sudah mengantongi calon-calon suksesor Sri Mulyani.

Sementara Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, Presiden akan menetapkan Menkeu sebelum 1 Juni 2010.

Berikut beberapa profil kandidat yang didengung-dengungkan pengganti salah satu wanita paling berpengaruh di dunia versi Forbes itu.

1. Darmin Nasution

Saat ini pria yang akan genap berusia 62 tahun pada 12 Desember mendatang itu menjabat sebagai  Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia setelah sebelumnya menjadi Direktur Jenderal Pajak.

Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1976 itu mendapatkan gelar Doktor Ekonomi dari Universitas Paris, Sorbonne, Perancis, tahun 1986.

Ayah dua anak ini juga pernah menjabat sebagai Dirjen Lembaga Keuangan pada tahun 2000-2005 dan setelah itu menjabat sebagai Ketua Bapepam dan Lembaga Keuangan sampai dengan tahun 2006.
Continue reading

Indonesia Menjadi Negara Terkorup di Kawasan Asia-Pasifik

Berdasarkan hasil survey Hong Kong-based Political & Economic Risk Consultancy Ltd, Indonesia menjadi negara terkorup setelah Kamboja di Kawasan Asia-Pasifik. Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan pemerintah berkomitmen untuk memperbaiki reputasi.

Survei yang melibatkan 2.174 orang ekskutif tingkat menengah dan senior di Asia, Australia dan Amerika Serikat ini, melihat bagaimana korupsi berdampak pada berbagai tingkat kepemimpinan politik dan pamong praja, dan lembaga-lembaga utama. Survei juga juga meneliti bagaimana korupsi mempengaruhi lingkungan bisnis secara keseluruhan.

Tidak hanya reputasi saja, Sri Mulyani mengatakan pemerintah berusaha meningkatkan kinerja dan mengisi berbagai pemberitaan yang positif terhadap reformasi dan integritas.

Sebelumnya diberitakan oleh Bloomberg, Indonesia mengambil alih posisi Kamboja sebaga negara terkoprup di Asia Pasifik. Ini dilihat dari mata para pebisnis. Dengan persepsi ini maka Indonesia akan lebih sulit menarik investasi dari luar negeri.

Untuk diketahui saja, sebelumnya Reuteurs melihat, kasus Century merupakan pertarungan antara kubu reformasi dan anti reformasi. Reuters menilai Menkeu Sri Mulyani telah melakukan reformasi birokrasi untuk membersihkan para pejabat korup di Direktorat Pajak dan Direktorat Bea Cukai yang berada di bawah Kementrian yang dipimpinnya.

Menurut Reuters, dengan mengutip seorang investor AS di Indonesia, para investor sangat khawatir dengan para politisi Indonesia yang lebih tertarik untuk bertarung memperebutkan kekuasaan dari pada mendukung proses reformasi.

Persepsi ini juga dikhawatirkan akan menjatuhkan rating atau peringkat Indonesia. Apalagi korupsi di Indonesia sangat kental nuansa politik dibandingkan dengan negara lain di kawasan.

Hasil kajian ini juga mengatakan, keputusan yang diambil DPR berkaitan dengan kasus Bank Century yang mengkriminalkan Wakil Presiden dan Menteri Keuangan justru membuat membuat pandangan investor mengenai pemberantasan korupsi di Indonesia menjadi mundur.

Continue reading

Pidato Presiden SBY Tentang Kasus Bank Century

Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menanggapi putusan final Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang kasus Bank Century. SBY menjelaskan latar belakang penyelamatan Bank Century, yakni adanya krisis 2008. DPR pun, kata dia, sepakat saat itu ada krisis.

Ditambahkan SBY, saat itu Indonesia beruntung memiliki Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KKSK) yang dipimpin Sri Mulyani dan Boediono. “Sri Mulyani dan Boediono, dua putra bangsa yang rekam jejaknya tak satupun meninggalkan kesan buruk, terkait kompetensi dan integritas pribadinya,” kata SBY di Istana Negara, Kamis 4 Maret 2010.

Keputusan penyelamatan Bank Century, tambah SBY, dia tidak dimintai kebijakan dan arahan. Sebab, KKSK bekerja berdasarkan Perpu, yang memang tak perlu keterlibatan presiden.

“Saya dapat memahami [keputusan itu], tak cukup memahami saya pun  membenarkan dengan keyakinan kuat krisis benar-benar terjadi,” kata SBY.  “Saya percaya, siapapun yang berkewajiban pasti akan melakukan hal yang sama. Siapa saja berusaha memadamkan sekecil apapun api yang bisa memicu kebakaran yang bisa melumpuhkan dunia perbankan,” jelas Yudhoyono.

Tanpa ragu, SBY menegaskan kebijakan menyelamatkan Bank Century dapat dipertanggungjawabkan. “Bagi mereka yang berjasa menyelamatkan perekonomian negara, kita patut memberi penghargaan yang tinggi,” tambah SBY.

Continue reading

Anggota Pansus Angket Century dari Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo

Anggota pansus angket Century dari Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo menyatakan tidak pernah sepenuhnya menyebut Robert Tantular, pemilik saham Bank Century, ada dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan 20-21 November 2008.

“Saya menyatakan mari dengar sama-sama. Kami pansus akan memeriksa Sri Mulyani dan Robert,” ujar Bambang pada Senin (14/12) yang menyatakan mengusahakan memperdengarkan rekaman tersebut dalam rapat pansus. Rekaman tersebut kini telah dipegangnya.

Menurutnya, dasar dugaan bahwa ada Bambang di rapat tersebut adalah ucapan Sri Mulyani yang berkata ‘Robert’. “Kita pakai logika dan akal sehat. Sri menyebut ‘Robert’ dalam rapat KSSK. Kalau memang benar itu Robert, akan luar biasa,” ujar Bambang.

Dirinya menyatakan cukup surprise melihat reaksi pasca diungkapkannya temuan rekaman tersebut. “Kok mengapa banyak yang kebakaran jenggot?” tutup Bambang.

Beberapa pihak mengklaim bahwa suara yang diduga Robert dalam rekaman tersebut adalah suara Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan dan Program Reformasi (UKP3R) saat itu, Marsilam Simanjuntak.

Continue reading