Isu Terorisme Kembali Menyeruak di Aceh

Isu terorisme kembali menyeruak di Aceh. Inilah bumbu perdamaian yang sedang berlangsung. Baru-baru ini Aceh kembali dikejutkan dengan penangkapan beberapa teroris di Aceh Besar, Jantho. Walaupun sampai sekarang tidak ada pernyataan resmi mengenai apakah benar ada teroris di Aceh atau tidak oleh aparat terkait. Namun beberapa pakar terorisme sudah mulai melemparkan pandangan mereka. Ada pakar yang menyebutkan belum tentu mereka yang ditangkap di Jantho adalah teroris. Ada pula ahli terorisme yang mengatakan mereka adalah bagian dari jaringan terorisme di Indonesia.

Terlepas dari apakah benar ada dan tidaknya teroris di Aceh, saya lebih tertarik melihat apakah Aceh benar menjadi basis jaringan terorisme? Tentu saja jawabannya sangat sulit, mengingat terorisme itu seperti permainan pet-pet nyet. Karena di situ ada berbagai kepentingan dan keinginan untuk terus membudidayakan sel terorisme sepanjang masa, terutama di Asia Tenggara.

Sebagai masyarakat yang biasa yang tidak punya latar belakang politik, tentunya saya tidak bisa membuat analisa politik. Setidaknya ini menjadi satu hal lama yang kambuh lagi. Merunut beberapa tahun ke belakang, masyarakat Aceh sudah cukup lelah dengan isu peperangan, konflik, kontak tembak, bau mesiu, pembunuhan, dan lain-lainnya. Itu sudah menjadi hal yang tidak menyenangkan bagi masyarakat Aceh.

4 tahun pasca perdamaian, masyarakat Aceh tidak mengharapkan banyak. Terutama bagi kami-kami yang tinggal di pedalaman. Kami tidak mengharapkan bantuan uang dari pemerintah, kami tidak mengharapkan bantuan beras 2 kilo per bulan, kami tidak mengharapkan bantuan lauk pauk untuk makan kami. Kami cuma mengharapkan kehidupan kami bisa berjalan dengan normal, tanpa adanya bumbu-bumbu kontak senjata.

Continue reading

Bencana Gempa dan Tsunami Aceh, 26 Desember 2004, Kisah Kelam di Ujung Tahun.

26 Desember 2004…..

Gempa bumi tektonik berkekuatan 8,5 SR berpusat di Samudra India (2,9 LU dan 95,6 BT di kedalaman 20 km (di laut berjarak sekitar 149 km selatan kota Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam). Gempa itu disertai gelombang pasang (Tsunami) yang menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), Sri Langka, India, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand.

Menurut Koordinator Bantuan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jan Egeland, jumlah korban tewas akibat badai tsunami di 13 negara (hingga minggu 2/1) mencapai 127.672 orang. Namun jumlah korban tewas di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika Timur yang sebenarnya tidak akan pernah bisa diketahui, diperkirakan sedikitnya 150.000 orang. PBB memperkirakan sebagian besar dari korban tewas tambahan berada di Indonesia. Pasalnya, sebagian besar bantuan kemanusiaan terhambat masuk karena masih banyak daerah yang terisolir.

Sementara itu data jumlah korban tewas di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara menurut Departemen Sosial RI (11/1/2005) adalah 105.262 orang. Sedangkan menurut kantor berita Reuters, jumlah korban Tsunami diperkirakan sebanyak 168.183 jiwa dengan korban paling banyak diderita Indonesia, 115.229 (per Minggu 16/1/2005). Sedangkan total luka-luka sebanyak 124.057 orang, diperkirakan 100.000 diantaranya dialami rakyat Aceh dan Sumatera Utara.

Continue reading

Sepak Bola

” ahhhhh……. kenapa gak gol, padahal dia cuma berhadapan dengan kiper?? “

kata-kata itu ramai terdengar di sebuah warung kopi pojokan di banda aceh, dan tak lama kemudian.. GOOOLLLLL. Kembali suara penonton riuh rendah dan kembali bersemangat menyaksikan sebuah hiburan yang tak akan lekang oleh zaman.

ya…. itulah sepak bola..

Padahal pemain cuma dengan susah payah mencoba untuk mengejar bola, akan tetapi begitu bolanya di dapat, eh… malahan di tendang lagi. Kayak orang gak da kerjaan.. hehehehe..

Continue reading