Tutorial dan Tata Cara Menulis di Acehpedia

Bagi yang belum memiliki keahlian menulis seperti Saya, tentu sering menemukan kesulitan ketika akan mempublish postingan. Jangankan mempublish, postingannya saja tak kunjung selesai ditulis. Saya sering  mengalami kejenuhan karena ketidakmampuan dalam merangkai kata-kata menjadi kalimat, paragraf dan tulisan artikel yang utuh. Menulis itu ekspresi diri, menulis itu menyenangkan, dan menulis adalah bagian dari kehidupan kita.

Dalam hal ini, Acehpedia hadir sebagai media online yang menyediakan informasi tentang Aceh yang dapat ditulis secara kolaboratif oleh para pembacanya. Untuk memudahkan kolaborasi, konten lokal ini menggunakan perangkat lunak MediaWiki. Layaknya media wiki (wikipedia), setiap orang ataupun lembaga dapat menulis, memeperbaiki ataupun mengubah isi AcehPedia setelah mendaftar (registrasi) dan terverifikasi.

Saya selaku salah satu anggota dari Acehpedia merasa kesulitan untuk membuat sebuah tulisan, topik baru atau me-revisi tulisan yang telah ada. Dan sepertinya hal ini juga terjadi pada Acehpediawan yang lain.

Sebenarnya, Acehpedia yang beralamat di http://www.acehpedia.org telah menyiapkan tutorial yang dapat menjadi panduan kepada kita untuk melakukan aktifitas menulis di Acehpedia. Tutorial yang di tulis dengan terperinci ini, saya yakin akan dapat menuntun anda untuk ikut berpartisipasi untuk terus mengumpulkan informasi tentang budaya, sejarah dan topik-topik lainnya yang tersedia di Acehpedia.

Tutorial menulis di Acehpedia ini sendiri di siapkan dalam beberapa format :

- Panduan AcehPedia format *.doc, panduan penggunaan AcehPedia dalam format text dokumen, dapat dibuka dengan menggunakan perangkat lunak word processor seperti misalnya Microsoft Word ataupun OpenOffice.

- Panduan AcehPedia format *.pdf, panduan penggunaan AcehPedia dalam format pdf, dapat dibuka dengan menggunakan perangkat lunak Acrobat Reader.

- Panduan Word2MediaWiki Plus format *.doc, panduan penggunaan Word2MediaWiki Plus dalam format text dokumen, dapat dibuka dengan menggunakan perangkat lunak word processor seperti misalnya Microsoft Word ataupun OpenOffice.

- Panduan Word2MediaWiki Plus format Pdf, panduan penggunaan Word2MediaWiki Plus dalam format pdf, dapat dibuka dengan menggunakan perangkat lunak Acrobat Reader.

- Panduan Unggah Video format *.doc, panduan unggah video dalam format text dokumen, dapat dibuka dengan menggunakan perangkat lunak word processor seperti misalnya Microsoft Word ataupun OpenOffice.

- Panduan Unggah Video format *.pdf, panduan unggah video dalam format pdf, dapat dibuka dengan menggunakan perangkat lunak Acrobat Reader.

Untuk informasi lengkapnya, anda dapat mengunjungi situs Acehpedia atau  klik saja link ini  www.acehpedia.org/Bantuan:Isi

About these ads

One thought on “Tutorial dan Tata Cara Menulis di Acehpedia”

  1. ‘Kunjungan Kapolri ke Aceh’

    Sikap Kapolri yang menyempatkan diri untuk datang ke Aceh sangat berarti bagi kelanjutan pembinasaan langkah-langkah teroris dengan memberikan apresiasi bagi anggota polisi, masyarakat dan aparat terkait di Aceh Besar.

    Sungguh suatu usaha yang patut di acungkan jempol bagi seluruh aparat baik Polri maupun TNI serta masyarakat di Aceh Besar dan sekitarnya yang sudah berhasil menunjukkan kerjasama yang spontan karena kesadaran bersama untuk memusnahkan teroris dari bumi pertiwi ini.

    Masyarakat Aceh yang mayoritas Islam dapat dengan transparan menyatakan sikap anti terhadap teroris. Transparansi sikap tersebut nyata menunjukan bahwa Islam anti teroris. Dan Teroris adalah Teroris.

    Teroris (yang menggunakan kedok sebagai muslim) merasa nyaman dan aman dalam setiap aktifitasnya jika mencantumkan atribut Islam yang merupakan salah satu bentuk mayoritas dalam suatu komunitas.

    Masyarakat Aceh yang merupakan pionir agama Islam tidak arogan dalam menyikapi ulah teroris yang mencatut kebesaran dan kemayoritasan Islam di Indonesia untuk kepentingan pihak asing yang mempunyai masalah dengan Amerika.

    Beberapa pemerintahan resmi negara Islam memang ada yang memiliki hubungan yang buruk dengan Amerika, sedangkan pemerintahan resmi RI tidak demikian.

    Masyarakat Aceh ternyata lebih smart dibanding saudara-saudara senegeri lainnya dalam memandang keberadaan teroris. Mereka dapat membedakan mana kepentingan negara RI, mana kepentingan asing dan mana kepentingan Islam.

    Sikap mereka jelas ANTI TERORIS, yaitu anti terhadap sekelompok orang tidak bermoral yang menghalalkan terjadinya pembunuhan terhadap orang-orang tidak berdosa melalui aksi pengeboman dan merusak stabilitas keamanan melalui kemitraan dengan pihak asing untuk kepentingan asing seperti yang dilakukan kelompok Dulmatin dll.

    Pihak asing disini adalah pemerintahan asing yang secara resmi menyatakan permusuhan dengan Amerika dan melancarkan aksi-aksi kekerasan, pengacauan atau pengeboman seperti yang terjadi di Bali, Poso, Kedubes Australia, hotel-hotel di distrik Kuningan-Jakarta, rumah-rumah ibadah dan tempat-tempat lain di bumi pertiwi ini.

    Tidak seperti para pemuka agama Islam di luar Aceh yang masih memberikan nuansa simpati dan bersikap abu-abu atas tertangkap/tertembaknya kelompok Dulmatin.

    Bagi masyarakat Aceh memusuhi Islam bukan berarti memusuhi RI dan mereka hadapi dengan sikap yang religi tidak brutal, menggunakan ideologi Islam yang benar yang sudah tertanam dan berakar di Aceh tanpa melibatkan pemerintah (resmi) maupun rakyat RI.

    Begitu juga sebaliknya ketika mereka harus bermusuhan dengan pemerintahan resmi, yaitu pemerintah yang mereka anggap tidak adil dalam pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia di Aceh, mereka hadapi secara politis tanpa membawa-bawa nama Islam.

    Meskipun mereka harus menghadapi secara bergerilya melalui Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sempat mendapat pandangan negatif dari segala penjuru, tetapi pada akhirnya pemerintah menyadari kekurangannya dan bersedia menciptakan sistim otonomi daerah yang harus dan sudah mengakomodir tuntutan perjuangan masyarakat Aceh sehingga terciptanya propinsi Nanggroe Aceh Darusallam (NAD).

    Agak mengherankan jika (masih) ada segelintir orang yang memiliki pandangan sbb,

    (1) Memberikan perlawanan kepada kelompok teroris yang mencatut nama Islam adalah bertentangan dengan falsafah nerara (RI).

    (2) Atau lebih ekstrim lagi ”memusuhi kelompok teroris yang membawa atau secara tidak sengaja membawa, meminjam maupun menyertakan nama Islam dalam setap aktifitasnya adalah mendiskreditkan umat Islam maka layak disebut musuh Islam”.

    Untuk kedua kelompok tersebut diatas hendaknya harus banyak belajar dari masyarakat Aceh yang sudah banyak merasakan asam garam dalam menjunjung kebesaran Islam di tanah leluhur mereka tercinta.

    Wasalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s